Demi Prestasi yang Lebih Baik, Menpora Tak Takut Sanksi FIFA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menyapa penonton saat pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja 1 2014 di DBL Arena, Surabaya, 9 Desember 2014. TEMPO/Fully Syafi

    Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menyapa penonton saat pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja 1 2014 di DBL Arena, Surabaya, 9 Desember 2014. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengaku tak takut jika federasi sepak bola dunia atau FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia atas pembekuan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Selama pembekuan itu berdampak positif bagi sepak bola nasional, pemerintah tak akan surut langkah.

    "Sanksi FIFA tak perlu ditakutkan, kami rindu sepak bola yang berprestasi," kata Imam setelah menghadiri pembukaan Konferensi Parlemen Asia-Afrika di Jakarta, Kamis, 23 April 2015. Pemerintah, menurut dia, semata-mata berusaha memperbaiki sepak bola nasional.

    Menurut Imam, kondisi sepak bola nasional merupakan perwujudan harga diri bangsa. Untuk itu, semua elemen terkait harus memikirkan kondisi sepak bola Indonesia saat ini. Indonesia, kata dia, sempat menjadi sorotan internasional karena adanya skandal pengaturan skor dan sepak bola gajah. "Seharusnya timnas harus bisa menggambarkan kebesaran Indonesia di dunia."

    Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi pekan lalu memutuskan membekukan PSSI. Keputusan itu diambil setelah tiga surat teguran tertulis Kementerian Olahraga tidak ditanggapi serius oleh induk organisasi olahraga sepak bola tersebut.

    Dalam surat keputusan pembekuan yang ditandatangani pada 17 April 2015 itu dijelaskan bahwa sampai tenggat yang telah ditetapkan dalam surat teguran tertulis I, II, dan III, PSSI nyata-nyata secara sah dan meyakinkan telah terbukti mengabaikan dan tidak mematuhi kebijakan pemerintah. Tak terima dengan pembekuan itu, Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti mengajukan gugatan terhadap Kementerian Pemuda dan Olahraga ke pengadilan tata usaha negara (PTUN).

    Imam mempersilakan La Nyalla menggugat keputusan itu ke PTUN. Menurut dia, Indonesia merupakan negara hukum. "Siapa pun bisa berpendapat dan mengajukan upaya hukum untuk menentukan status," katanya.

    Dia juga menepis anggapan bahwa dia tak menggubris La Nyalla, yang sudah dua kali datang ke kantornya. Imam beralasan, kedatangan La Nyalla tak terjadwal. Di sisi lain, jadwalnya juga cukup padat. Selama tak ada pengajuan resmi dari PSSI untuk bertemu, Imam mengatakan tak akan menemui mereka. 

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.