Juara Olimpiade Beijing Ini Curhat Beratnya Menjadi Pelatih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maria Kristin Yulianti. ANTARA/Andika Wahyu

    Maria Kristin Yulianti. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, Maria Kristin, mengaku lebih sulit berperan menjadi pelatih ketimbang pemain. 

    Setelah pensiun sebagai pemain bulu tangkis akibat cedera lutut kanan yang berkepanjangan, Maria kini menjadi pelatih di PB Djarum Kudus khusus menangani pemain U13.

    "Melatih itu susah, lebih enak main. Kalau yang dilatih hanya satu orang mungkin beda, tetapi ini kan banyak," kata Maria di GOR Djarum, Kudus, Jawa Tengah, Rabu, 2 September 2015.

    Maria mengawali karier sebagai pelatih pada akhir 2012 dengan menjadi asisten pelatih tunggal putri U15. Kemudian pada 2014 ia menjadi pelatih tunggal putri U13.

    Sebagai pelatih ia mengaku cukup tegas. "Memang galak, tetapi saya bilang jangan salah kalau tidak mau diomelin," ujar atlet kelahiran Tuban, Jawa Timur, 25 Juni 1985.

    Sebagai pelatih, Maria mengaku kadang didera rasa bosan. Untuk menghadapi pemain muda, ia harus ekstra sabar.

    "Bosan pasti pernah. Waktu jadi pemain saja juga pernah bosan. Tetapi senangnya menjadi pelatih karena yang dilatih anak kecil jadi ikut bercanda. Bisa awet muda tetapi kadang bisa juga darah tinggi," katanya bercanda.

    "Kalau anak buah kalah bertanding juga ikut pusing," katanya.

    Meskipun telah lama bergelut dengan bulu tangkis, Maria tidak berencana terus melatih. "Saya mau urus rumah," kata Maria yang hanya tersipu saat ditanya perihal calon pendamping hidupnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.