Muhammad Ali: 14 Momen yang Menjadikannya Si Terhebat!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Ali sebelum pertandingan melawan Henry Cooper di Wembley, London, 18 Juni 1963. Mandatory Credit: Action Images / MSI/File Photo

    Muhammad Ali sebelum pertandingan melawan Henry Cooper di Wembley, London, 18 Juni 1963. Mandatory Credit: Action Images / MSI/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Muhammad Ali, petinju legendaris yang memproklamirkan dirinya "The Greatest" atau "Yang Terhebat", meninggal di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, Jumat, 3 Mei 2016, waktu setempat.

    Salah satu atlet paling terkenal dan dicintai di planet ini menyerah pada maut setelah 32 tahun berjuang melawan penyakit Parkinson. Muhammad Ali meninggal pada usianya yang ke-74.

    BACA: Mantan Petinju Legendaris Dunia Muhammad Ali Wafat

    Berikut momen-momen penting yang menjadikan petinju legendaris itu sebagai "Yang Terhebat", seperti yang disarikan dari laman The Guardian, Sabtu, 4 Mei 2016.


    1. Bertinju Setelah Motornya Dicuri (1954)

    Jika bukan karena iming-iming makanan gratis, Muhammad Ali mungkin tidak pernah bertinju. Saat masih bernama Cassius Clay, ia mengayuh sepeda merah-putih merek Schwinn miliknya ke Louisville Home Show, pameran untuk para pengusaha kulit hitam itu, demi sekantung brondong jagung cuma-cuma, sepotong hot dog, dan sebungkus permen. Tapi ketika pergi berkeliling, sepedanya hilang. Seseorang menyarankan dia berbicara dengan polisi bernama, Joe Martin, di dekat gym Columbia.

    Ali, seperti yang terungkap dalam otobiografinya, The Greatest, mengatakan: "Aku berlari sambil menangis tapi pemandangan, suara, dan bau keringat para petinju membuat aku bersemangat sehingga hampir lupa tentang sepeda itu". Tanpa disadari oleh Ai, Martin menepuk bahunya. "Omong-omong, kami berlatih tinju setiap malam, Senin sampai Jumat, kira-kira enam sampai delapan ronde. Ini ada formulir jika Anda ingin bergabung."



    2. Menang pada Pertarungan Pertama (1954)

    Pertama kali menjejakkan kakinya dia atas ring, Ali berhadapan dengan petinju yang lebih tua. Ali digebukin habis-habisan. Dalam satu menit hidungnya berdarah-darah sehingga Ali harus ditarik keluar. Martin mengatakan, "ia kecolongan karena hook kiri yang memukulinya".

    BACA: Muhammad Ali, Si Mulut Besar yang Suka Pesta Ulang Tahun

    Enam pekan berselang, Ali memenangkan pertarungan pertamanya dengan angka atas murid lain, Ronny O'Keefe. Dalam pertandingan, yang disiarkan langsung oleh acara Tomorrow's Champions, dan disaksikan warga Kentucky, ayahnya, Cassius Clay Senior, menyatakan: "Anak saya akan menjadi Joe Louis berikutnya. Juara Dunia Kelas Berat, Cassius Clay!"

    Joseph Louis Barrow, atau yang dikenal dengan nama Joe Louis, adalah petinju profesional asal Negeri Abang Sam. Louis adalah pemegang gelar juara dunia kelas berat dari 1937 hingga 1949. Louis dianggap sebagai salah satu petinju terbesar di kelas berat sepanjang masa.



    3. Emas di Olimpiade Roma (1960)

    Ia hampir batal bertanding di Olimpiade Roma. Sebabnya, Ali sangat takut bepergian dengan pesawat. Ali bahkan harus membeli parasut dari toko militer untuk dipakai dalam pesawat. Setelah kemenangan mudah pada babak pendahuluan, Clay menghadapi peraih perunggu Olimpaide 1956, Zbigniew Pietrzykowski, di partai final. Ali bertarung habis-habisan melawan petinju kidal itu sebelum dia dinyatakan menang angka mutlak oleh dewan juri.

    Dalam otobiografinya, Ali mengaku telah melemparkan medali emasnya ke Sungai Ohio setelah pertandingan tersebut. Ali mengatakan: "Beberapa menit sebelumnya aku berjuang hampir mati melawan seorang pria karena ia ingin mengambil medali ini dariku. Sekarang aku melemparkan medali ini ke sungai. Aku tidak merasa sakit atau menyesal. Hanya lega, dan seperti ada kekuatan baru."



    4. Ali dan Pegulat Gorgeous George (1961)

    Setelah beralih ke tinju profesional, Clay memenangkan enam pertarungan dalam enam bulan. Kemudian, saat acara radio di Las Vegas yang mempromosikan pertarungan ketujuh, ia bertemu pegulat 'Cantik' George Wagner (karena ia berwajah tampan dan berambut gondrong). Wagner terkenal piawai berpromosi dalam menggaet penonton.

    Ali lantas mengatakan kepada penulis biografinya Thomas Hauser: "(George) mulai berteriak: 'Jika dia (Ali) mengalahkan saya, saya akan merangkak di atas ring dan memotong rambut saya, tapi itu tidak akan terjadi karena aku petarung terbesar di dunia. Sepanjang waktu, aku berkata kepada diriku sendiri: 'Ya Tuhan. Saya ingin melihat pertarungan ini."

    BACA: Cerita dan Alasan Muhammad Ali Masuk Islam

    "Dan seluruh kursi di tempat itu terjual habis ketika Gorgeous George bergumul ... termasuk saya ... dan saat itulah saya memutuskan jika saya juga harus beromong besar, karena tidak ada yang tahu berapa banyak orang akan membayar untuk menonton saya."



    5. Bertarung dengan Sonny Liston (1964)

    Clay sangat cepat, tampan, pintar bersilat lidah, tapi juga pemberani. Tepat sebelum laga juara dunia inkumben, Sonny Liston versus Floyd Patterson pada 1963, Clay membuntuti Liston ke Las Vegas. Setelah melihat Liston kalah dalam berjudi, Ali berteriak: "Lihat itu si beruang jelek besar, bermain judi saja dia tidak becus."

    Promotor Harold Conrad mengatakan kepada Thomas Hauser apa yang terjadi selanjutnya. "Liston melemparkan dadunya, menghampiri Clay, dan berkata: 'Dengar sini kau negro homo. Jika kau tidak keluar dari sini dalam 10 detik aku akan menarik lidah besarmu keluar dari mulutmu, dan tongkat itu menusuk bokongmu'.

    BACA: Liputan Tempo Saat Amerika Merayakan Usia Muhammad Ali ke-70

    "Clay merasa takut. Dia ke luar arena judi. Tapi kemudian ia pergi ke rumah Liston di Denver untuk berteriak kepadanya dari jalanan. Tak lama setelah itu pertarungan mereka ditandatangani. Ali merebut gelar juara dunia," Conrad mengenang adegan tersebut.



    6. Clay Juara Kelas Berat Dunia (1964)

    Liston adalah raksasa dunia tinju. Matanya tajam dan meneror lawan sebelum pukulan pertama mencuri kesadaran mereka. Dari 36 pertarungannya, Liston hanya kalah sekali. Bahkan, meski rahangnya patah, Liston tidak kapok bertinju. Saat timbang badan sebelum bertanding, detak jantung Clay meningkat dua kali lipat dari ukuran normal. Orang-orang mengira ia takut.

    Tapi Clay mengatakan kepada dokternya, Ferdie Pacheco, bahwa ia ada akal. "Liston manusia tanpa rasa takut, tapi dia tidak tahu apa yang akan saya lakukan." Clay segera menemukan akal. Clay adalah petinju licin dan lebih tajam. Setelah mampu berahan dalam lima ronde, Ali mengoleskan beberapa tetes minyak wintergreen dengan efef seperti merica ke sarung tangan Liston.

    Akibat "kelicikan" itu, mata lawannya terbakar. Liston pun terpaksa menyerah di akhir ronde keenam. Setelah itu Clay berteriak kepada para wartawan yang menunggunya bahwa ia telah "mengguncang dunia". Saya Yang Terbesar! ... Saya hal terindah yang pernah hidup!" Saat itu, Clay berusia 22 tahun.



    7. Cassius Clay Menjadi Muhammad Ali (1964)

    Setelah mengejutkan dunia dengan mengalahkan Liston, kejutan susulan pun muncul. Clay tertarik pada organisasi Islam kulit hitam dimulai pada 1959. Ketika itu ia melihat seorang pria di Louisville menjual Al-Quran sambil berteriak: "Muhammad berbicara! Bacalah! "Pada Maret 1961 ia mengunjungi sebuah masjid dan terbenam dalam aktivitas keagamaan."

    Saat itu Pacheco mengatakan: "Sampai Ali datang ke komunitas Black Muslim yang dianggap sebagai kelompok pinggiran gila ... [tapi] Ali mengerti bahwa dia tidak bercinta dengan muslim. Dia hanya menyukai kekuatan mereka." Clay menahan diri untuk tidak mengumumkan kemuslimannya karena dia tidak ingin membahayakan pertarungannya dengan Liston.

    Tapi sehari sebelumnya ayahnya marah kepada Ali. Cassius Clay Senior (yang mengaku ada anggota Black Muslim telah mengancam untuk membunuhnya) menegaskan bahwa anaknya menjadi Cassius X, kemudian Muhammad Ali, yang bergabung dengan Nation of Islam pimpinan Malcolm X.



    8. Dilarang Bertinju dan Dipenjara (1967-1968)

    "Bagaimana saya bisa membunuh seseorang ketika saya sembahyang lima kali sehari untuk perdamaian," kata Ali pada 1967 ketika menjalani hukuman pencopotan gelar juara kelas berat akibat menolak bergabung dengan Angkatan Darat AS untuk berperang di Vietnam. Setahun kemudian ia menjalani hukuman penjara sepuluh hari di Penjara Miami Dade County, karena kedapatan mengemudi tanpa SIM.

    Ali mengakui saat di penjara ia mendapat makanan seperti terpidana mati. "Bau urine dan kotoran begitu kuat sampai-sampai saya ingin menutup hidung," tulisnya. "Mereka mendapat juara kelas berat dunia sebagai acara makan malam.'" Filsuf Bertrand Russell menulis kepada Ali: '!Angin akan berubah. Aku merasakan itu." Dan itu erbukti. Tapi sampai Juni 1970, pengadilan memutuskan Ali bisa bertarung lagi.



    9. Pertarungan Abad Ini (1971)

    Saat Ali keluar dari pertapaannya, suasana hati publik telah bergeser. Sejarawan tinju Jim Jacobs mengatakan: "Di pengasingan itu menunjukkan kepada orang-orang bahwa Ali berhati tulus. Itu membuatnya menjadi underdog. Ia menjadi simbol bagi orang-orang yang tidak pernah tertarik pada dunia tinju."

    Tapi keterampilannya sudah terkikis. Di Madison Square Garden, Ali dan juara baru Joe Frazier jual-beli pukulan satu sama lain. Tapi Ali tidak cukup tangkas atau setajam sebelum ia dipenjara dan dihukum. Frazier semakin ganas sebelum hook kirinya merobohkan Ali pada ronde ke-15. Ali sempat bangkit namun ia dinyatakan kalah dengan angka mutlak.



    10. Menang di The Rumble in the Jungle (1974)

    Bahkan keluarga Ali tidak pernah mengharapkan dia mampu mengalahkan George Foreman. Merasakan suasana nuansa ketakutan di ruang ganti, Ali balik bertanya: "Apa yang terjadi di sini? Semua orang takut? Takut? Dengan hal kecil seperti ini? Ini seperti hari-hari lainnya di gym."

    Foreman telah menghancurkan Frazier dalam dua putaran. Ia datang untuk menghajar Ali yang berusia 32 tahun dengan cara yang sama. Tapi Ali berayun-ayun di tali ring--kini terkenal dengan gaya 'rope-a-dope'--memancing Foreman untuk mengeluarkan semua energi sebelum Ali menghentikannya.

    Menjelang ronde keenam, Foreman sudah kelelahan. Pengamat tinju, Norman Mailer, menggambarkan kondisi Foreman, "Benjolan dan pembengkakan di seluruh wajah, kulit mirip tar yang dipanggang di bawah sinar matahari". Dengan 20 detik tersisa di  ronde kedelapan, Ali berbalik menyerang Foreman hingga membuatnya memutar, dan telentang di atas kanvas.

    Sang komentator televisi David Frost mengatakan: "Yang Terbesar itu telah melakukannya! Ini adalah adegan yang paling mengejutkan yang pernah dilihat dalam sejarah tinju! "



    11. Thriller di Manilla (1975)

    Sebelum pertarungan pertama mereka, Ali menyebut Frazier, "Negro yang salah arah. Dia tidak seperti saya, karena dia adalah Paman Tom. Dia bekerja untuk musuh." Sebelum pertarungan ketiga mereka, dia menyebut Frazier "gorila jelek dan bodoh".

    Pertarungan yang digelar dalam cuaca panas pukul 10.00 waktu Manila, Filpina, itu berlangsung brutal mengingat kedua petarung saling menyakiti sebelum pertandingan dihentikan pengadil. Ali sedang di atas angin, tapi Frazier terus melawaan.

    Dengan mata tertutup, Frazier sejatinya kalah di ronde ke-13. Pada akhir ronde ke-14, pelatih Frazier, Eddie Futch, menghentikan pertarungan sembari berkata pada Ali: "Tidak ada yang akan melupakan apa yang kamu lakukan di sini hari ini". Ali kemudian mengakui bahwa saat itu dia seperti berada di ujung ajal.



    12. Ali Juara Kelas Berat Tiga kali (1978)

    Saat itu Ali berumur 36, tapi dalam pertarungan dia tampak lebih tua. Dalam salah satu pertarungan yang lebih kepada mmotivasi karirnya, ia kehilangan gelar dari Leon Spinks, petinju pemula pemilik tujuh laga. Beberapa bulan kemudian Ali yang sedikit lamban memenangkan pertandingan ulang.

    Momen itu menjadikan dia sebagai orang pertama yang memegang sabuk kelas berat untuk ketiga kalinya. Setelah itu Ali berjanji akan pensiun, "Saya menderita dan berkorban lebih dari yang pernah saya lakukan. Tidak ada yang tersisa bagi saya untuk memenangkan pertarungan."



    13. Malam yang Mengerikan dari Larry Holmes (1980)

    Tapi seperti umumnya petinju, Ali tidak bisa mengendalikan diri. Dia masih nekat menantang Larry Holmes, mantan mitra latihnya dan juara dunia baru di kelas berat ketika itu. Setelah sebelumnya banyak menurunkan berat badannya, Ali masih percaya diri memasuki ring. Namun, Ali mengakui setelah pertarungan itu bahwa obat-obatan telah membenamkan dia.

    "Dalam dua hari terakhir saya tidak bisa berlari satu milpun. Aku kelelahan setelah satu ronde dan ada 14 ronde lagi." Di akhir ronde kesepuluh, pelatih Angelo Dundee ingin pertarungan dihentikan, tapi Drew 'Bundini' Brown Ali, si pelatih kepala, ingin pertarungan dianjutkan. Dundee benar. Ali tertunduk, tidak memiliki energi untuk memprotes. Dia tidak memenangkan satu ronde pun di mata dewan juri.



    14. Olimpiade Atlanta dan Refleksi Diri

    Tidak semua orang menganggap ke Ali makhluk hebat. Seperti dalam bukunya, Ghosts of Manilla, penulis terkenal Mark Kram mengaku: "Ali tidak lebih sebuah kekuatan sosial seperti halnya Frank Sinatra. Yang secara politis suka melemparkan makian rasial. Kini, ia akan dipandang sebagai kontaminan dan pengguna kronis bahasa kebencian."

    Namun ketika Ali ditahbiskan sebagai salah satu yang menyalakan api Olimpiade di Atlanta, Amerika Serikat, pada 1996, dengan tangan kirinya tanpa sadar gemetar karena penyakit Parkinson, reaksi kerumunan--kebisingan, air mata, dan pencurahan besar cinta--menunjukkan betapa Ali sekarang dihormati.

    THEGUARDIAN.COM | BC

    BACA JUGA
    Ahok Soal Ahmad Dhani: Mau Tangkap Saya, Doa Saja Jungkir...
    Artis Restu Sinaga Ditangkap: Sudah Pakai Kokain 3 Tahun?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.