Petenis Putra Jalani Rapid Test Jelang Turnamen Internal Pelti

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petenis Christopher Rungkat. Instagram/@Christorungkat

    Petenis Christopher Rungkat. Instagram/@Christorungkat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Indonesia menggelar rapid test untuk para atlet putra yang bakal mengikuti turnamen internal.
     
    Enam petenis pelatnas menjalani tes cepat sebagai bagian protokol kesehatan Covid-19 dengan hasil non-reaktif. Mereka yakni Christopher Rungkat, Rifqi Fitriadi, Gunawan Trismuwantara, Lucky Chandra Kurniawan, Tegar Abdi, dan Nauvaldo Jati Agatra.
     
    Sejak tiga pekan lalu, Pelti telah memulai pelatnas di Lapangan Tenis kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Kala itu petenis putri yang mengikuti turnamen internal. Petenis Aldila Sutjiadi berhasil menjuarai kompetisi yang diikuti lima rekannya yang lain. 
     
    Mulai Selasa, 7 Juli 2020, giliran petenis putra yang bakal beradu kemampuan dalam kompetisi internal. "Alhamdullilah semua pemain sehat. Hasil rapid test pelatnas putra seluruhnya nonreaktif. Dengan begitu, simulasi internal pelatnas putra bisa bergulir hari ini di stadion tenis," kata pelatih tenis, Febi Widhiyanto.
     
    Petenis Rifqi mengaku sempat ada rasa khawatir memulai pelatnas dan turnamen. Namun, ia tetap mematuhi protokol kesehatan sebagai salah satu upaya pencegahan penularan Covid-19.
     
    "Sebenarnya ada rasa was-was juga sih. Tapi saya berusaha menjalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah, dan kami sudah melakukan rapid test. Hasilnya nonreaktif," kata Rifqi.
     
    "Semoga pertandingan bisa berjalan lancar semua tanpa ada sesuatu yang tidak diinginkan. Semoga saya bisa memberikan hasil maksimal juga," katanya di sela pertandingan internal pelatnas tenis

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.