Liem Swie King: Sekarang Momong Cucu, Bisnis Diurus Anak-Anak

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Liem Swie King dan keluarganya setelah menyaksikan Asian Games 2018 di Senayan, Jakarta. (Instagram/Liemswieking)

    Liem Swie King dan keluarganya setelah menyaksikan Asian Games 2018 di Senayan, Jakarta. (Instagram/Liemswieking)

    TEMPO.CO, Jakarta - Legenda bulu tangkis, Liem Swie King memutuskan untuk pensiun atau gantung raket pada tahun 1988 saat berusia 32 tahun.

    Meski telah telah tiga dekade tak bermain bulu tangkis, nama Liem Swie King tetap dikenang. Kisah hidupnya bahkan sempat dibuatkan film khusus dengan judul King pada 2009. Tak hanya itu King juga membuat buku dengan judul Panggil Aku King.

    Liem Swie King, 64 tahun, bercerita hari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama keluarga. "Sekarang fokus ke keluarga, main sama cucu, dan kebanyakan di rumah," kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Juli 2020.

    "Kalau olahraga rutin jalan pagi," ucap dia menambahkan aktivitasnya selama pensiun.

    Seusai pensiun dari bulu tangkis, Liem Swie King sempat terjun ke ranah bisnis dengan mengelola hotel di kawasan Jakarta milik mertuanya. Dia juga membuka usaha griya pijat kesehatan, karena sering dipijat saat masih bermain dulu.

    Namun seluruh usahanya itu telah diserahkan pengelolaan kepada anak-anaknya. "Sekarang udah pensiun, usaha diurus sama anak-anak," ucap dia.

    Meski tak lagi aktif bermain bulu tangkis, Liem Swie King masih rutin berurusan dengan dunia yang memberikannya segudang prestasi. King juga masih kerap mengunjungi klub bulu tangkis PB Djarum, tempat yang membesarkan namanya hingga ke panggung dunia, untuk memberikan coaching clinic.

    "Paling di klub Djarum, tapi sejak 4-5 bulan ini kebanyakan di rumah karena pandemi," ucap dia. Dari tiga anaknya, tidak ada yangmengikuti jejaknya sebagai pemain bulu tangkis.

    Liem Swie King lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 28 Februari 1956. Saat bermain ia mengandalkan tangan kanan sebagai senjata.

    Sejak kecil ia sudah menggemari bulu tangkis. King kerap bermain di lapangan belakang rumahnya setiap waktu. Bakatnya mulai tercium usai sering datang atau ikut bertanding di barak rokok PB Djarum pada 1969. King kerap bertanding dengan lawan yang lebih tua dari usianya.

    Matang karena ditempa latihan berat, King mampu membuktikan diri dengan memenangi Kejuaraan Nasional tunggal putra di Piala Munadi 1972. Raihan pertama ini menjadi cikal-bakal King untuk terus berprestasi di kancah nasional dan akhirnya dunia. Kemampuannya tak lepas dari didikan pelatih Mohammad Anwari.

    Bakat King ini tampaknya karena ia lahir di keluarga penyuka bulu tangkis di samping ia memiliki kemauan keras untuk terus menjadi pemenang. Meski usianya masih tergolong muda, King tetap dipercaya untuk tampil di kompetisi bulutangkis paling tua di dunia, yakni All England 1974 silam.

    Kala itu King sempat tampil begitu gemilang sampai akhirnya kandas di babak perempat final dikalahkan pemain legendaris Denmark Svend Pri dua set langsung.

    Puncaknya, Liem Swie King bisa menjadi juara All England pada 1978. Berjumpa lagi dengan Rudy Hartono di final, ia sukses mengalahkan seniornya itu dengan dua set langsung.

    Liem Swie King pun merengkuh juara tanpa terkalahkan selama 33 bulan lamanya. Hal inilah yang menjadi tonggak sejarah King dikenal dunia dengan berbagai prestasi baik turun di nomor tunggal, ganda, dan beregu.

    King mampu menjuarai All England sebanyak tiga kali (1978, 1979, 1981). Berbagai gelar kejuaraan lain juga pernah diraihnya seperti Asian Games, SEA Games, Piala Thomas, Indonesia Open, Malaysia Open, Jepang Open.

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selama 4 Bulan Ada Bantuan Tunai untuk Pegawai Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Pemerintah memberikan bantuan tunai bagi pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta selama 4 bulan. Menteri BUMN Erick Tohir mengatakan hal itu demi ekonomi.