Petenis Alexander Zverev Bantah Lakukan Kekerasan kepada Mantan Pacarnya

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Petenis asal Jerman Alexander Zverev membantah tuduhan tindakan kekerasan terhadap Olga Sharypova yang juga mantan pacarnya. Runner up turnamen US Open 2020 itu menganggap tuduhan yang dilontarkan Olga tidak berdasar.

    Sharypova, 23 tahun, sebelumnya menuduh Zverev mencoba membekapnya dengan bantal dan membenturkan kepalanya ke dinding sebuah kamar hotel di New York pada Agustus 2019. Saat itu, tidak lama sebelum dimulainya turnamen Grand Slam US Open.

    Dia kemudian melarikan diri dari kamar tanpa alas kaki karena khawatir akan keselamatannya. Sharypova pertama kali merinci tuduhan itu di akun Instagramnya pada Kamis lalu. Ia kemudian melaporkan hal tersebut pada sebuah laman berita olahraga Rusia, yang dilansir Reuters, Sabtu, 31 Oktober 2020.

    Baca juga : Naomi Osaka, Juara US Open yang Tak Segan Bersuara untuk Masalah Keadilan

    Sharypova tidak menghubungi polisi dengan alasan masih mencintai Zverev dan tidak ingin menimbulkan masalah untuknya. Atas laporan tersebut, Zverev membantah tuduhan tersebut dalam sebuah unggahan di Twitter dan menyebutnya sebagai tuduhan tidak berdasar.

    "Kami sudah saling kenal sejak kecil dan berbagi banyak pengalaman bersama. Saya sangat menyesal dia membuat pernyataan seperti itu karena tuduhan itu tidak benar," ujar dia.

    Alexander Zverev meneruskan, "Kami pernah menjalin hubungan, tapi itu sudah lama berakhir. Mengapa Olga membuat tuduhan seperti itu sekarang, saya tidak tahu. Saya sangat berharap kami berdua menemukan cara untuk menyelesaikannya secara baik-baik."

    Di sisi lain, Sharypova mengatakan bahwa dia merasa perlu berbicara, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan perempuan lainnya. "Saya tidak ingin mengatakan bahwa dia adalah orang jahat. Saya hanya mengatakan bahwa dia melakukan hal yang buruk kepada saya," ujar dia.

    Tentang tudingan kekerasan terhadap perempuan, ia meneruskan, "Sejumlah besar gadis menderita kekerasan dan pelecehan dari pria dan tidak menceritakan kisah mereka kepada siapa pun. Beberapa takut, beberapa hanya menerimanya, yang lain tidak dapat membicarakan topik ini. Sungguh menyakitkan bahwa di abad ke-21 kita masih belum sampai pada kesimpulan bahwa perempuan juga manusia. Kita harus dihormati, tidak diperlakukan seperti kain pel."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.