Pemerintah Jepang dan Panitia Isyaratkan Penonton Boleh Hadir di Olimpiade Tokyo

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cincin raksasa Olimpiade terlihat di atas laut, di tengah wabah COVID-19 di Tokyo, Jepang, 22 Januari 2021. Jika Olimpiade Tokyo 2021 dibatalkan, maka kemungkinan ajang Olimpiade ke-32 tak akan berlangsung. Pasalnya, tak mungkin melakukan penundaan lagi dengan terlalu dekatnya pergelaran Olimpiade 2024 di Paris. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Cincin raksasa Olimpiade terlihat di atas laut, di tengah wabah COVID-19 di Tokyo, Jepang, 22 Januari 2021. Jika Olimpiade Tokyo 2021 dibatalkan, maka kemungkinan ajang Olimpiade ke-32 tak akan berlangsung. Pasalnya, tak mungkin melakukan penundaan lagi dengan terlalu dekatnya pergelaran Olimpiade 2024 di Paris. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, JakartaPejabat pemerintah Jepang dan penyelenggara Paralimpiade dan Olimpiade Tokyo mengisyaratkan lampu hijau untuk mengizinkan sejumlah penonton hadir dalam pertandingan pesta olahraga tersebut. Izin itu akan diberikan jika tindakan pencegahan penyebaran virus corona bisa dilakukan secara menyeluruh.

    Dikutip dari Kyodo, Ahad, pernyataan dari sumber yang dekat dengan masalah tersebut datang hanya dua bulan sebelum pembukaan Olimpiade, pada 23 Juli, dan di tengah seruan publik untuk membatalkan acara karena skeptisisme tentang kemampuan penyelenggara untuk menahan penyebaran virus corona.

    Ibukota Jepang telah berada dalam keadaan darurat COVID-19 sejak akhir April di tengah gelombang keempat infeksi virus corona.

    Panitia dijadwalkan untuk memutuskan bulan depan tentang jumlah penonton dengan mempertimbangkan situasi infeksi dan faktor lainnya.

    Ada kekhawatiran bahwa mengizinkan penonton akan meningkatkan lalu lintas pejalan kaki di luar tempat tinggal, yang berarti tindakan pencegahan penyebaran virus tambahan akan diperlukan.

    Sumber juga mengatakan opsi tanpa penonton kemungkinan akan dipertahankan hingga menit terakhir jika situasi semakin memburuk.

    Perdana Menteri Yoshide Suga menginginkan adanya penonton, dengan sumber mengonfirmasi bahwa langkah-langkah sedang dipertimbangkan untuk memungkinkan penonton di tribun.

    Saat mengumumkan keadaan darurat yang sedang berlangsung pada akhir April, pemerintah menetapkan kebijakan dasar untuk tidak mengizinkan penonton di acara besar di daerah darurat.

    Kebijakan itu dilonggarkan ketika keadaan darurat diperpanjang pada 7 Mei, dengan kehadiran dibatasi 5.000 orang atau 50 persen dari kapasitas tempat.

    Dorongan untuk mengizinkan penonton semakin menguat melihat rekam jejak penyelenggaraan bisbol profesional dan sepak bola profesional dalam menerima penggemar tanpa masalah yang berarti dan juga keberhasilan uji coba Olimpiade.

    "Diskusi tentang tidak adanya penonton sudah berakhir, dan sekarang pertimbangan utama adalah berapa banyak yang bisa kami izinkan," kata seorang pejabat yang memiliki peran sentral dalam mempersiapkan pertandingan.

    Namun, jika jumlah penonton dibatasi, diperlukan undian untuk dipilih di antara pemegang tiket. Persiapan yang diperlukan untuk langkah seperti itu berarti tidak banyak waktu tersisa sebelum Olimpiade dimulai.

    Ada juga pendapat bahwa "pertandingan harus dilanjutkan tanpa penonton untuk meringankan beban operasional, dan berkonsentrasi pada penanggulangan infeksi untuk atlet dan pemangku kepentingan."

    Masalah seputar pengaruh cuaca panas pada penonton juga termasuk yang masih belum terselesaikan.

    Pada Maret lalu, pemerintah dan penyelenggara memutuskan untuk melarang penonton dari luar negeri untuk Olimpiade Tokyo. Keputusan untuk membatasi penonton domestik akan dibuat pada bulan April, namun ditunda hingga Juni karena lonjakan kasus COVID-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.