Sebelum Raih Perak Olimpiade, Eko Yuli Irawan Sempat Berkonflik dengan PABSI

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet angkat besi Indonesia Eko Yuli Irawan berpose setelah berhasil meraih medali perak pada cabang angkat besi kelas 61 kg dalam ajang Olimpiade 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, 25 Juli 2021. REUTERS/Edgard Garrido

    Atlet angkat besi Indonesia Eko Yuli Irawan berpose setelah berhasil meraih medali perak pada cabang angkat besi kelas 61 kg dalam ajang Olimpiade 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, 25 Juli 2021. REUTERS/Edgard Garrido

    TEMPO.CO, Jakarta - Eko Yuli Irawan berhasil menyumbangkan medali perak untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo. Atlet 31 tahun itu merebutnya dari cabang angkat besi, Ahad, 25 Juli 2021.

    Keberhasilan itu sekaligus memupus kekhawatiran bahwa Eko akan terganggu performanya di Olimpiade Tokyo karena masalah yang muncul selam persiapan.  


    Menjelang Olimpiade Tokyo, Eko sempat berpolemik dengan Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia. Namun, ia tetap memasukkannya dalam kontingen yang dikirim ke Jepang.
     
    Eko meninggalkan Pemusatan Latihan Nasional pada 15 Januari lalu, karena Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) tak memenuhi permintaannya menambah pelatih.

    "Seminggu latihan di sana dikasih jawaban ditolak. Padahal sudah komitmen," kata Eko saat ditemui di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu, 14 April lalu.

    Dilansir dari Majalah Tempo edisi 17 April 2021 dalam artikel berjudul "Pilih-pilih Pelatih Angkat Besi", polemik antara Eko dengan PB PABSI itu sudah berlangsung sejak pertengahan tahun lalu ketika dia memutuskan meninggalkan pelatnas dan berlatih mandiri di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

    Selanjutnya: Cerita Detail Perselisihan Itu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.