Olimpiade Tokyo: Susul Thailand, Filipina Juga Berhasil Meraih Emas

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lifter Filipina, Hidilyn Diaz, meraih medali emas Olimpiade Tokyo. REUTERS/Edgard Garrido

    Lifter Filipina, Hidilyn Diaz, meraih medali emas Olimpiade Tokyo. REUTERS/Edgard Garrido

    TEMPO.CO, Jakarta - Atlet Filipina Hidily Diaz menjadi peraih medali emas Olimpiade pertama di negaranya, Senin. Ia  memenangi kategori 55 kilogram putri untuk angkat besi Olimpiade Tokyo.

    Dalam Olimpiade keempat dan mungkin terakhir, atlet berusia 30 tahun itu mencatatkan total angkatan 224 kilogram, yang juga menjadi rekor Olimpiade.

    Setelah menyelesaikan angkatan terakhirnya, Hidily Diaz menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sebelum memeluk pelatihnya dan mencengkeram medali yang tergantung di lehernya, seperti dilaporkan Reuters.

    Di podium, Diaz yang masih menangis berdiri memberi hormat saat dia menyanyikan lagu kebangsaan negaranya.

    Liao Qiuyun dari Cina, yang gagal menyamai rekor dunianya sendiri, meraih perak dengan catatan total angkatan 223 kg. Sementara, Zulfiya Chinshanlo dari Kazakhstan meraih perunggu dengan mencatatkan total angkatan 213 kg.

    Chinshanlo adalah peraih medali emas angkat besi di Olimpiade London 2012, namun pada 2016 medalinya dicabut setelah dinyatakan gagal dalam tes doping setelah pengujian ulang sampel.

    Bagi Hidily Diaz, medali kali ini menjadi yang kedua yang diraih di Olimpiade. Di Rio 2016 lalu, ia juga meraih perah. Lifter ini juga pernah mengantongi emas Asian Games 2018 di Jakata, serta emas SEA Games 2019 di negaranya.

    Filipina menjadi negara Asia Tenggara kedua yang berhasil meraih emas di Olimpiade Tokyo. Sebelumnya, Thailand juga berhasil merebut sekeping emas dari Taekwondo. Adapun Indonesia baru meraih satu perak dan satu perunggu dari cabang angkat besi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.