Mengapa Indonesia Paceklik di All England ?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Ben Hoskins/Getty Images

    Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Ben Hoskins/Getty Images

    TEMPO.COJakarta - Tak ada satu gelar juara yang diraih Indonesia di ajang bulu tangkis Superseries Premier All England 2015 kali ini. Ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil menembus final, hanya bisa menjadi runner up setelah kalah di tangan pasangan Cina, Zhang Nan/Zhao Yunlei, dua game langsung, 10-21, 10-21.

    Tontowi/Liliyana dan ganda putra Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan merupakan andalan Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) untuk bisa menyabet gelar. Sayang, Ahsan/Hendra gagal melangkah ke perempat final setelah ditaklukkan pasangan Cina, Fu Haifeng/Zhang Nan, 16-21, 21-19, 18-21. 

    Dari kedua pasangan itulah, PBSI sebenarnya berharap target dua medali di All England bisa terwujud. "Ya, kita gagal mencapai target, tapi ada beberapa penampilan pemain-pemain kita yang menunjukkan kemajuan," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI  Rexy Mainaky kepada Tempo, Ahad, 8 Maret 2015.

    Tontowi/Liliyana dan Ahsan/Hendra merupakan juara All England pada 2014. Bahkan Tontowi/Liliyana sudah tiga kali menjuarai kejuaraan itu berturut-turut sejak 2012. Tontowi/Liliyana menyamai rekor yang pernah diraih pasangan Korea Selatan, Park Joo-bong/Chung Myung-hee, yang mengoleksi gelar All England dari 1989 hingga 1991.

    Sebelum Tontowi/Liliyana menjadi juara All England 2012, ganda campuran Indonesia yang terakhir kali juara dalam ajang itu tahun adalah Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada 1979. Setelah tiga kali juara, gelar All England untuk nomor ganda campuran berpindah lagi ke pemain Cina, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Sebelumnya, enam tahun berturut-turut sejak 2006 hingga 2011, Cina selalu menjadi juara di ganda campuran.

    Berdasarkan catatan sejarah All England, setelah Sigit Budiarto/Candra Wijaya menjuarai di nomor ganda putra 2003, Indonesia paceklik gelar di ajang ini dari 2004 hingga 2011. Kebuntuan itu mulai terpecahkan ketika Tontowi/Liliyana juara pada 2012. 

    Di nomor ganda putri, Indonesia lebih terpuruk lagi. Setelah pasangan Verawaty/Imelda Wiguna menyabet gelar juara All England pada 1979, belum ada lagi pemain Indonesia yang mengikuti jejaknya hingga saat ini.

    Di nomor tunggal putra dan putri, sudah lebih dari dua dekade Indonesia tidak pernah lagi bisa menjuarai ajang ini. Pemain tunggal putra Indonesia yang terakhir menjadi juara All England adalah Haryanto Arbi pada 1993 dan 1994. Sedangkan untuk tunggal putri, Susi Susanti yang menjadi juara tiga kali, yakni pada 1990, 1991, dan 1994, belum ada yang mengikuti.

    Taufik Hidayat, pemain tunggal putra yang pernah menjadi juara dunia 2005, peraih emas Olimpiade Athena 2004, belum pernah menjadi juara dalam ajang All England. 

    Dalam ajang All England, Indonesia pernah mendominasi nomor tunggal putra. Rudy Hartono satu-satunya pemain Indonesia yang pernah meraih tujuh gelar All England berturut-turut dari 1968 hingga 1974 kemudian juara lagi pada 1976. Liem Swie King mencatat tiga kali juara, yakni pada 1978, 1979, dan 1981. Sepuluh tahun setelah King, barulah Ardy Wiranata juara sekali pada 1992.

    DANNI MUHADIANSYAH | PDAT | RINA W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.