Tercepat Se-Asean, Dadi Kantongi Jersey Jingga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pebalap sepeda beradu kecepatan saat melintasi kawasan wisata Lembah Anai pada Tour De Singkarak Etape Keenam di Tanah Datar, Sumatera Barat, 8 Oktober 2015. Pebalap dari Pishgaman Giant Team, Hossein Askari, keluar sebagai yang tercepat dengan catatan waktu tiga jam 29 Menit 50 detik. ANTARA/M Agung Rajasa

    Pebalap sepeda beradu kecepatan saat melintasi kawasan wisata Lembah Anai pada Tour De Singkarak Etape Keenam di Tanah Datar, Sumatera Barat, 8 Oktober 2015. Pebalap dari Pishgaman Giant Team, Hossein Askari, keluar sebagai yang tercepat dengan catatan waktu tiga jam 29 Menit 50 detik. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta -Dadi Suryadi sukes menjadi pebalap ASEAN tercepat atau pemegang kaus jingga pada Tour de Singkarak 2015 setelah menyelesai sembilan etape yang dilombakan mulai dari Painan dan finis di Jalan Samudera Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu.

    Pebalap Pegasus Continental Cycling Team ini membukukan total catatan waktu 29:59:03 meski pada etape terakhir dari Padang Panjang menuju Jalan Samudera, Kota Padang, tidak masuk dalam 10 besar pebalap tercepat masuk finis.

    Raihan pretasi pebalap asal Sumedang, Jawa Barat, itu terbilang cukup bagus. Apalagi persaingan sempat memanas dengan masuknya nama Ariya Phounsavath yang memperkuat Singha Infinite Cycling Team Thailand. Beruntung, pebalap asal Laos itu gagal melanjutkan perlombaan.

    Tekanan tidak berhenti di situ saja. Setelah Phousavanth terhenti giliran Marcelo Felipe dari 7 Eleven yang menjadi lawan Suryadi. Pebalap asal Filipina itu bahkan beberapa kali mengunggulinya termasuk saat finis dietap tujuh di Pasaman Barat dan dietape delapan di Puncak Lawang Agam.

    Meski mampu finis di depan Suryadi, posisi Felipe pada klasemen umum belum mampu menggeser posisi pebalap andalan Pegasus Continental Cycling Team itu meski selisih waktu mampu terpangkas sekitar satu menit.

    Kepastian Suryadi menjadi pebalap ASEAN tercepat pada kejuaraan yang diprakarsai oleh Kementerian Pariwisata itu setelah mampu finis dietape sembilan meski tidak masuk dalam 10 besar pebalap tercepat.

    Pada etape terakhir ini dia sebenarnya sempat tertinggal cukup jauh yaitu sekitar empat menit. Namun, pelan tapi tapi pasti pebalap asal Sumedang itu menyodok bersama dengan rombongan besar yang saat ini berada dibelakang empat pebalap terdepan dan membuat selisih waktu terpangkas dan membuat posisinya aman.

    "Etape ini cukup berat. Bahkan saya sempat kecolongan karena Felipe bisa terlepas setelah KOM (king of mountain). Bahkan gapnya cukup jauh. Tapi saya terus berusaha mengejarnya," kata Suryadi, usai perlombaan.

    Saat etape delapan, gap atau selisih waktu antara Suryadi dengan Felipe adalah empat menit 48 detik. Namun saat finis dietape sembilan, selisih waktunya mengecil menjadi tiga menit 42 detik. Kondisi ini jelas membuat Suryadi was-was.


    Felipe akhirnya tetap berada diposisi kedua dengan catatan waktu 30:02:45. Sedangkan untuk posisi tiga direbut pebalap dari BRCC-UBK Banyuwangi, Nandra Wahyudi, dengan total catatan waktu 30:22:40.

    "Yang jelas saya bersyukur dengan hasil ini. Kerja sama tim selama kejuaraan juga berjalan baik," kata pebalap asal Sumedang, Jawa Barat itu.

    Prestasi yang diraih oleh pebalap nasional itu mengulangi kejuaraan yang sama tahun lalu. Namun, untuk tahun ini Suryadi juga mendapatkan kaus merah-putih atau pebalap Indonesia tercepat pada kejuaraan dengan total hadiah Rp2,5 miliar itu. 


     

    Namun, prestasi dia tidak diikuti tim yang hanya bertengger di posisi enam dengan total catatan waktu 90:45:59.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.