Pebulutangkis Tunggal Putri Krisis Sosok Panutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Lindaweni Fanetri usai mencetak angka saat bertanding melawan pebulutangkis tunggal putri Jepang, Minatsu Mitani pada Kejuaraan Dunia Total BWF World Championship 2015 di Istora Senayan, Jakarta, 12 Agustus 2015. Lindaweni Fanetri berhasil melaju ke babak 16 besar usai mengalahkan Minatsu Mitani dengan skor 19-21, 21-14, dan 21-11. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ekspresi pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Lindaweni Fanetri usai mencetak angka saat bertanding melawan pebulutangkis tunggal putri Jepang, Minatsu Mitani pada Kejuaraan Dunia Total BWF World Championship 2015 di Istora Senayan, Jakarta, 12 Agustus 2015. Lindaweni Fanetri berhasil melaju ke babak 16 besar usai mengalahkan Minatsu Mitani dengan skor 19-21, 21-14, dan 21-11. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sektor tunggal putri Indonesia membutuhkan panutan untuk memicu prestasi dalam kejuaraan-kejuaraan internasional, kata legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata.

    "Sebenarnya Linda Wenifanetri telah menampilkan prestasi yang bagus saat Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2015 di Jakarta," ujar Christian selepas jumpa pers Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2016 di Bandung, Kamis.

    Penampilan Linda saat itu, menurut dia, sebenarnya menjadi titik balik prestasi sektor tunggal putri, tapi penampilan Linda justru menurun setelah itu

    Christian mengatakan bahwa prestasi sektor tunggal putri seakan tenggelam dibandingkan dengan sektor lain, seperti ganda putra dan ganda campuran. Bahkan, sektor tunggal putra telah bangkit dengan memunculkan generasi atlet-atlet muda setelah Tommy Sugiarto dan Simon Santoso keluar dari pelatnas PBSI.

    "Pada sektor ganda putra, kita bisa melihat prestasi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, sedangkan pada ganda campuran ada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Ketiadaan atlet berprestasi seperti itu akan menurun pada generasi berikutnya," katanya.

    Mantan atlet ganda putra itu mengapresiasi langkah PBSI untuk menurunkan atlet-atlet muda, seperti Ihsan Maulana Mustofa, Firman Abdul Kholik, Jonatan Christie, Hanna Ramadini, bahkan ganda Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi pada SEA Games 2015.

    "Atlet berprestasi yang menjadi panutan memang dapat diciptakan oleh para pelatih di klub-klub sebelum masuk pelatnas PBSI. Atlet-atlet muda perlu menerapkan kedisiplinan dan konsentrasi yang tinggi," katanya.

    Strategi lain untuk menciptakan atlet pantuan, menurut dia, yaitu dengan mendatangkan mantan-mantan atlet berprestasi secara berkelanjutan. Mantan-mantan atlet berprestasi seperti Susi Susanti, Rudy Hartono, ataupun Liem Swie King dapat memompa motivasi atlet untuk terus berprestasi.

    Christian menambahkan pembinaan fisik dan mental bertanding atlet perlu diperkuat oleh para pelatih-pelatih klub demi mengurangi kemungkinan cedera.

    "Jika atlet punya dasar yang kuat sejak di klub, kemungkinan cedera akan berkurang. Atlet akan khawatir cedera saat bertanding jika mereka pernah mengalaminya," kata Christian.

    Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin mengatakan bahwa bibit-bibit atlet putri bulu tangkis lebih sedikit dari pada atlet-atlet putra.

    "Kita memang harus mengakui minat berolahraga kaum perempuan di setiap rumah tangga lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Setiap kali Djarum menggelar audisi beasiswa bulu tangkis, jumlah peserta laki-laki lebih banyak dibanding peserta perempuan," kata Yoppy.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?