Atlet Papua Tagih Janji Bonus PON 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet tim Drum Band putra Provinsi Papua menjalani sesi latihan di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, 1 September 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Atlet tim Drum Band putra Provinsi Papua menjalani sesi latihan di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, 1 September 2016. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Jakarta - Seratusan atlet dan pelatih asal Papua yang mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat mempertanyakan besaran bonus yang tidak sesuai dengan janji Pemerintah Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur, Jayapura, Senin, 5 Desember 2016.

    Mereka menggelar aksinya dengan membawa medali yang diraih dalam kejuaraan PON Jawa Barat lalu serta spanduk-spanduk berisi tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Papua.

    Alberth Isage, salah satu atlet PON cabang olahraga dayung, di Jayapura, mengatakan pihaknya menggelar aksi protes tersebut untuk menagih janji Ketua Umum KONI Papua yang akan memberikan bonus kepada atlet peraih medali emas perorangan Rp 600 juta, perak Rp 400 juta, dan perunggu Rp 200 juta.

    "Sedangkan pembayaran bonus untuk beregu, pemberian bonusnya per kepala sebesar Rp 400 juta per orang, perak beregu Rp 200 juta, dan perunggu Rp 100 juta," katanya.

    Menurut Alberth, cabang dayung yang diperkuat 12 atlet dan berhasil mempersembahkan satu medali emas nomor beregu. Seharusnya mereka mendapat bonus Rp 400 juta per orang.

    "Pemberian bonus untuk perorangan dan beregu sudah berubah, tidak sesuai dengan janji kepada kami," ujarnya.

    Dia menjelaskan, pihaknya meminta Ketua Umum KONI Papua agar memberikan bonus sesuai dengan janji, karena atlet Bumi Cenderawasih tersebut membawa nama baik bagi Provinsi Papua.

    "Gubernur pernah berjanji di Sasana Krida, tapi karena usul terlalu banyak, akhirnya diubah sebelum bertanding di PON Jawa Barat," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.