MotoGP, Rossi Terpopuler di Medsos, Marquez Nomor Dua

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembalap Yamaha Valentino Rossi melambaikan tangan pada penggemarnya setelah berhasil finish diurutan kedua pada sirkuit Sepang, Malaysia, 30 Oktober 2016. AP/Vincent Thian

    Pembalap Yamaha Valentino Rossi melambaikan tangan pada penggemarnya setelah berhasil finish diurutan kedua pada sirkuit Sepang, Malaysia, 30 Oktober 2016. AP/Vincent Thian

    TEMPO.CO, Jakarta - Di media sosial mana pun, Valentino Rossi mengungguli para rivalnya dalam hal popularitas. Usia yang sudah 38 tahun dan gelar juara dunia yang sudah lama tak ia raih tak mengurangi kepopuleran pembalap MotoGP Italia itu.

    Seperti dirilis crash.net, pengikut Rossi di tiga media sosial paling populer, yaitu Twitter, Instagram, dan Facebook, paling banyak dengan total mencapai 21.858.430. Rinciannya, pengikut di Twitter 4.862.738, Facebook 13.195.692, dan Instagram 3,8 juta.

    Tempat kedua diduduki juara dunia bertahan, Marc Marquez, dengan total 7.839.166 pengikut. Pembalap Honda itu punya 2.004.043 pengikut di Twitter, 3.835.123 di Facebook, dan 2 juta di Instagram.

    Juara dunia tiga kali, Jorge Lorenzo, berada di urutan keempat dengan total 6.812.392 pengikut dengan rincian 1.447.799 di Twitter, 4.234.593 di Facebook, dan 1,1 juta di Instagram.

    Rekan setim Marquez, Dani Pedrosa, berada di urutan keempat dengan 2.860.971 pengikut yang terdiri atas 819.067 di Twitter, 1.225.904 di Facebook, dan 816 ribu di Instagram.

    Jumlah pengikut tersebut memang tidak mengherankan karena keempat nama itulah yang paling mendominasi lintasan MotoGP. Duo Italia yang musim lalu membela Ducati, Andrea Iannone dan Andrea Dovizioso, berada di posisi kelima dan keenam, diikuti Aleix Espargaro, Cal Crutchlow, dan Maverick Vinales.

    PIPIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.