Rabu, 22 Agustus 2018

Timnas Basket Indonesia Butuh Tambahan Pemain Naturalisasi

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pebasket putra Indonesia Jamarr Andre Johnson (atas) melakukan lay-up melewati dua pebaket putra Timor Leste Joao De Araujo Soares (kiri) saat pertandingan babak kualifikasi bola basket 18th Asian Games Invitation Tournament di Hall Basket Senayan, Jakarta, 8 Februari 2018. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

    Pebasket putra Indonesia Jamarr Andre Johnson (atas) melakukan lay-up melewati dua pebaket putra Timor Leste Joao De Araujo Soares (kiri) saat pertandingan babak kualifikasi bola basket 18th Asian Games Invitation Tournament di Hall Basket Senayan, Jakarta, 8 Februari 2018. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelatih tim basket Indonesia, Fictor Roring Gideon, mengatakan timnya membutuhkan pemain naturalisasi yang bisa berperan sebagai seorang big man, termusuk untuk tampil di Asian Games 2018. Pemain berpostur tinggi besar tersebut sangat dibutuhan untuk diandalkan bermain di bawah ring.

    "Kami butuh itu," ujar Fictor saat ditemui usai pertandingan Indonesia kontra India di Jakarta, Jumat, 9 Februari 2018. Dalam laga test event itu, Indonesia dikalahkan India dengan skor 55-66.

    Menurut Fictor, big man dengan postur tertinggi yang dimiliki oleh timnas Indonesia saat ini, Christiano Ronaldo Sitepu, atau kerap dipanggil dengan sapaan Dodo, masih belum cukup tinggi untuk dapat bersaing dengan pemain dari negara lain dalam ajang-ajang tingkat Asia, seperti Asian Games. "Lihat saja, pemain tertinggi India 218 centimeter. Lebih tinggi 18 sentimeter dari Dodo," ujar Fictor.

    Adapun pemain tertinggi dari India yang dimaksud oleh Fictor adalah Satnam Singh Bhamara. Dalam laga kontra Indonesia kemarin, pemain yang berhasil masuk draft NBA 2015 untuk klub Dallas Mavericks itu berhasil tampil dominan di bawah ring. Tercatat, dirinya berhasil melakukan 12 kali rebound serta mencetak 11 poin.

    Dalam pertandingan kemarin pula, untuk jumlah raihan rebound, Indonesia masih kalah dibanding India. Secara keseluruhan India berhasil meraih 59 kali rebound di kala Indonesia hanya bisa meraih 51 kali rebound. Adapun raihan rebound bagi Indonesia itu pun didominasi oleh raihan 14 rebound dari pemain naturalisasi, Jamarr Andre Johnson.

    "Jamarr main luar biasa. Main 36 menit, 14 rebound, dan 9 poin," ujar Fictor saat ditanya pendapatnya akan penampilan dari pemain naturalisasi asal Amerika Serikat yang kini bermain untuk klub Satria Muda Pertamina tersebut.

    Senada dengan Fictor, Dodo pun menganggap bahwa pemain naturalisasi yang dapat berperan sebagai big man itu perlu bagi timnas basket Indonesia. "Ya, kalo itu untuk kebutuhan tim," ujar Dodo. Penggawa Satria Muda Pertamina itu juga mengatakan, pemain naturalisasi juga dapat mendukung para pemain lokal untuk dapat terus bersaing, sehingga kualitas pemain lokal pun diharapkan dapat menjadi semakin baik.

    Dodo mengakui, dibandingkan dengan pemain basket dari negara lain, kini pemain basket Indonesia masih memiliki kekurangan di banyak hal. "Yang pertama sih soal size. Untuk size kami masih kalah," ujarnya. "Terus juga, level liganya kan juga beda, dan kami juga jarang bertemu dengan mereka."

    Dodo juga menambahkan, kurangnya kesempatan bagi pemain Indonesia untuk berlaga di pentas basket internasional juga menjadi salah satu hambatan bagi pemain Indonesia untuk dapat bersaing dengan pemain dari negara lain. "Jadi game-game seperti ini sangat dibutuhkan juga oleh pemain kita," ujar Dodo yang juga menjadi kapten bagi timnas basket Indonesia di ajang test event Asian Games 2018.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Sri Mulyani Vs Zulkifli Hasan, Apa Yang Terjadi?

    Perseteruan antara Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani makin panas. Simak perdebatan mereka ini.