Setelah 11 Tahun, Roger Federer Kembali Lawan Nadal di Wimbledon

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Hanya Roger Federer yang bisa membuat publik di kawan Fan Zone Euro 2008, Zurich, Swiss, beralih dari tonton pertandingan sepak bola Piala Eropa ke layar besar yang menyiarkan kejuaraan tenis Wimbledon.

    Besok, Jumat 12 Juli 2019, Federer akan kembali ke panggung raksasa itu, yakni Wimbledon melawan musuh bebuyutan, Rafael Nadal, pada semifinal.

    Sosok Federer begitu berkarisma bagi Swiss karena ia bukan hanya petenis kebanggaan tapi sudah menjadi ikon olahraga nasional.  

    Kehadiran Federer melawan Rafael pada pertandingan final tunggal putra Wimbledon 2008 itu, yang ditayangkan melalui layar lebar di taman wisata untuk para turis di Zurich menyambut Euro 2008 di Swiss-Austria, seperti membius yang hadir.

    Mereka beramai-ramai menyaksikan aksi Federer di layar lebar Fan Zone Euro 2008 dalam salah satu pertandingan tenis terhebat sepanjang sejarah. Pertarungan berlangsung maraton dalam lima set dengan skor ketat 6-4, 6-4, 6-7 (5), 6-7 (8), 9-7 untuk kemenangan Nadal.

    Kekalahan Federer pada 2008 itu seperti ditangisi orang-orang di Swiss, termasuk di Basel, tempat kelahirannya 37 tahun lalu.

    Ketika salah satu pertandingan Euro 2008 berlangsung di Stadion Basel, penonton maupun wartawan masih sibuk membicarakan drama pada final tunggal Wimbledon 2008 itu.

    Kini setelah 11 tahun berlalu, Federer kembali berduel dengan musuh abadinya dari Spanyol, Rafael Nadal, 33, di Wimbledon, tapi lebih awal, yaitu pada semifinal.

    Setelah Nadal memenangi Wimbledon 2008 –diikuti dengan kemenangan Spanyol pada Euro 2008- dan 2010, Federer yang lebih sukses memenangi turnamen Grand Slam lapangan rumput itu pada 20012 dan 20017. Petenis Swiss ini sudah menjadi juara di turnamen ini delapan kali sejak 2004.

    Tapi, pertemuan Federer dengan Nadal selalu ditunggu-tunggu di manapun

    Juara Prancis Terbuka 12 kali, Nadal, yang di Wimbledon hanya menempati unggulan ketiga pada Wimbledon 2019, melaju ke semifinal setelah menang tiga set langsung dari petenis Amerika Serikat, Sam Querrey, 7-5, 6-2, 6-2.

    Sedangkan Federer yang menempati unggulan kedua, karena sejarah prestasinya di Wimbledon lebih baik, sempat kehilangan satu set dari Kei Nishikori sebelum mengalahkan petenis Jepang ini dalam empat set, 4-6, 6-1, 6-4, 6-4.

    Rafael Nadal dan Roger Federer terakhir kali bertemu pada Grand Slam Prancis Terbuka di lapangan tenis tanah liat Roland Garros, Paris, pada semifinal 7 Juni 2019. Saat itu petenis Spanyol dengan pukulan tangan kiri tersebut menang tiga set langsung 6-3, 6-4, 6-2.

    Di antara empat seri Grand Slam yang berlangsung setiap tahun, selama ini hanya Wimbledon yang menjadi titik lemah Nadal. Tapi, melihat performa Nadal sejak pulih cedera dan kemudian mengikuti Prancis Terbuka, petenis Spanyol ini memberikan harapan penggemarnya untuk tampil lebih baik dalam turnamen tertinggi di lapangan rumput ini.

    Setelah 11 tahun, dua petenis kawakan dari Spanyol dan Swiss yang bolak-balik bergantian menduduki peringkat pertama dunia ATP (badan tenis profesional putra) ini akan kembali berduel di Wimbledon.

    Nadal, 33, dan Federer, 37, tiga kali bertemu di Wimbledon. Pada 2006 dan 2007 petenis legendaris Swiss itu mengalahkan rival bebuyutaannya pada final. Tapi, pada final 2008, Nadal yang menang.

    “Bermain melawan Roger selalu mewujudkan sebuah situasi yang unik. Sangat menggairahkan bisa bertemu kembali dengan dia di lapangan ini (Wimbledon) setelah 11 tahun. Ini sangat berarti buat saya dan mungkin buat dia juga,” kata Nadal di situs badan tenis putra profesional, atp.tour.

    Rafael Nadal dan Roger Federer adalah dua kutub yang berbeda. Nadal tampil meledak-ledak dengan pukulan tangan kiri, meski ia tidak kidal. Adapun Federer terkenal kalem dengan forehand dan backhand tangan kanannya yang akurat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Minta Lion Air dan Citilink Turunkan Harga Tiket LCC

    Pemerintah telah memerintahkan dua maskapai penerbangan domestik, Lion Air dan Citilink, untuk menurunkan harga tiket pesawat berbiaya murah.