Mencari Solusi Menghadang Mafia Atlet  

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perpindahan atlet-atlet secara mendadak berpotensi membuka celah bagi mafia olahraga.

    Perpindahan atlet-atlet secara mendadak berpotensi membuka celah bagi mafia olahraga.

    INFO PON - Pindahnya atlet daerah dari satu provinsi ke provinsi lain, terutama menjelang penyelenggaraan event olahraga nasional, memang bukan hal yang tabu. Dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat lalu, tercatat sejumlah atlet Jabar akhirnya bertanding membela provinsi lain. Mereka di antaranya adalah Glen Victor Sutanto dan Ressa Kania Dewi dari cabang olahraga renang, serta Tannya Roumimper dari cabang olahraga bowling. Ketiganya membela Jawa Timur dalam PON yang baru saja berakhir.

    Selain atlet Jabar yang hengkang ke luar provinsi, sejumlah atlet dari luar daerah justru turun memperkuat tim tuan rumah. Misalnya saja, atlet lempar lembing Dian Kartika Ratnasari, yang dalam PON sebelumnya membela Jawa Tengah. Kepindahan Dian ke Jabar lebih dikarenakan faktor ekonomi karena di Jabar Dian mendapatkan pekerjaan sekaligus kesempatan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Meski lazim terjadi, perpindahan atlet seperti ini bisa merugikan daerah asal, terutama karena biaya pembinaan atlet yang sudah digunakan menjadi sia-sia. Salah satu yang mengkhawatirkan kenyataan ini adalah Manajer Tim Voli Indoor Jabar, Netty Heryawan, yang juga istri Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan. Menurut Netty, perpindahan atlet-atlet secara mendadak seperti ini berpotensi membuka celah bagi mafia olahraga, yang hanya mencari keuntungan dari proses pindah domisili atlet.

    “Hal ini akan mengganggu proses pembinaan dan regenerasi atlet di Indonesia. Memang, sah-sah saja seorang atlet ingin pindah domisili dan membela daerah lain, tapi yang akan diuntungkan para mafia karena ada uangnya,” kata Netty.

    Kekhawatiran senada juga diungkapkan Ketua Umum KONI Kota Bandung Aan Johana. “Untuk PON kan tidak ada istilah transfer karena bukan klub. Jadi sayang kalau kita yang membesarkan dari nol, kemudian diambil provinsi lain,” tuturnya.

    Dalam PON XIX, atlet Kota Bandung menyumbangkan 63 medali emas untuk Jabar, 51 perak, dan puluhan perunggu. Sumbangan besar ini menjadikan atlet Kota Bandung aset yang amat berharga dan bukan mustahil dibidik provinsi lain dalam PON berikutnya.

    Aan berharap, KONI Jabar menguatkan komitmen mereka untuk membentengi atlet agar tidak pindah ke daerah lain. Perpindahan atlet antar provinsi cukup sulit dibendung karena biasanya ada iming-iming materi. Sementara kepindahan atlet antar kota atau antar kabupaten lebih mudah dibentengi karena biasanya berlatar belakang pindah sekolah atau pindah rumah mengikuti orangtua.

    Sementara Netty Heryawan mengusulkan agar atlet Jabar yang membela provinsi lain hendaknya telah tinggal di wilayah Jabar selama sedikitnya dua tahun. “Sebab ini juga akan merugikan daerah yang ditinggalkan. Pembinaan atlet kan butuh biaya. Kalau mereka pindah domisili nanti akan sia-sia dong biayanya,” tukasnya.

    Usulan lain datang dari Manajer Tim Pelatda Angkat Berat Jabar untuk PON XIX Sugito. Dia berharap pembentengan atlet juga dilakukan pemerintah lewat penyediaan lapangan pekerjaan tetap agar mereka tetap berdomisili di Jabar. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPnBM Nol Persen, Cara Mudah Hitung Harga Mobil Baru Honda Brio

    Harga baru berlaku setelah penerapan PPnBM Nol Persen mulai Senin, 1 Maret 2021. Diskon terhadap PPnBM ini berlaku pula untuk Honda Brio.