F2: Tanpa Nilai dari GP Monako, Sean Gelael Bidik GP Prancis

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sean Gelael dalam balap F2 GP Monako di Sirkuit Jalan Raya Monte Carlo, Sabtu 24 Mei 2019. (Tim Jagonya Ayam)

    Sean Gelael dalam balap F2 GP Monako di Sirkuit Jalan Raya Monte Carlo, Sabtu 24 Mei 2019. (Tim Jagonya Ayam)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pulang dengan tangan hampa walau berpeluang besar meraih banyak adalah kenyataan pahit yang mesti ditelan pembalap F2 Sean Gelael. Race 2 di Monte Carlo, Monako, seperti menjadi kesimpulan keseluruhan akhir pekan pebalap Jagonya Ayam tersebut.

    Dari sisi kecepatan Sean sangat bagus dan berada pada level yang sama dengan pebalap terdepan. Hanya, Monte Carlo adalah trek yang sulit untuk menyusul, sehingga secepat apa pun dia kemungkinan untuk naik banyak posisi hampir mustahil.

    Walau begitu Sean masih bisa menyusul beberapa pebalap. Bahkan, dia untuk kali pertama mampu membuat fastest lap dalam sebuah lomba. Walaupun, sayangnya, Sean tidak berhak meraih dua poin karena dia tak masuk deretan peraih angka lantaran finis di posisi 15.

    Insiden pada Race 1 hari Jumat (24/5), di mana terjadi kesalahan timing (pencatatan waktu) yang dampak panjangnya merugikan Sean di Race 2 karena harus start dari posisi belakang, sama sekali tak mengganggu konsentrasi pebalap tim PREMA Racing itu.

    Kecepatannya saat lomba sangat konsisten di level atas. Dan inilah yang akan jadi bekal dia untuk seri berikut di Prancis bulan depan.

    "Selalu berpikir positif saja. Kami gagal meraih poin di Monte Carlo, tapi sesungguhnya penampilan dan kecepatan mobil tidak jelek. Paul Ricard, tempat seri berikut, banyak tempat untuk menyusul dan saya menyukainya. Semoga kami di sana bisa memperlihatkan sesuatu yang pantas dibanggakan, baik oleh saya maupun tim," kata Sean Gelael lagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.