Wimbledon 2019: Priska Nugroho, Wakil Indonesia Masih Bertahan

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho. (instagram/@priskanugroho)

    Petenis Indonesia, Priska Madelyn Nugroho. (instagram/@priskanugroho)

    TEMPO.CO, Jakarta - Petenis Indonesia Priska Madelyn Nugroho kini menjadi satu-satunya wakil Indonesia di arena Grand Slam Wimbledon dan mengaku mulai menikmati pertandingan di lapangan rumput.

    "Saya main di rumput lima tahun lalu di Australia hanya satu kali dan rasanya bukan permukaan yang lazim saya mainkan. Tapi. kemudian saya mulai menyukainya seiring permainan yang saya lalui di sini," tutur Priska saat diwawancarai ITF dalam akun Twitternya, Rabu, 10 Juli 2019.

    Meski baru menjajal kejuaraan Wimbledon untuk pertama kalinya, namun Priska berhasil masuk hingga putaran 16 besar di nomor junior tunggal putri dan akan berhadapan dengan petenis asal Republik Cek, Linda Fruhvirtova.

    Sebagai salah satu dari dua wakil Indonesia di turnamen ini, selain Christopher Rungkat di nomor ganda-campuran, Priska merasa bangga dengan keikutsertannya di ajang Grand Slam tersebut. Terlebih dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat Indonesia yang menonton pertandingannya di kejuaraan itu.

    "Ini pertama kalinya ikut Wimbledon, sulit dipercaya. Saya menikmati semuanya, fasilitasnya, semuanya sangat bagus. Tidak banyak petenis Indonesia yang berkompetisi di turnamen internasional, dan mereka sangat mendukung. Mereka menonton pertandingan saya dan saya berterima kasih pada mereka," ujar petenis kelahiran 29 Mei 2003 itu.

    Keterlibatan Priska di Wimbledon juga tak lepas dengan bergabungnya dia dengan Grand Slam Development Fund Team. Ini sebuah tim asuhan Federasi Tenis Internasional (ITF) yang mengajak petenis dari seluruh dunia untuk ikut berkompetisi di ajang Grand Slam.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.