Sejumlah Klub Cabut dari Liga Super Eropa, UEFA Atur Langkah Lanjutan

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. REUTERS/Yves Herman

    Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. REUTERS/Yves Herman

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengatakan masih berbicara dengan tim hukum untuk langkah lanjutan menyikapi kemunculan rencana European Super League atau Liga Super Eropa. Ia berharap tim yang memisahkan diri mau menyadari kesalahan dan menanggung akibatnya.

    Caferin juga berusaha melobi sejumlah pemilik klub asal Amerika Serikat yang tidak ambil bagian dalam proyek Liga Super. "Saya berbicara dengan pemilik AS Roma dan Marseille, yang merupakan miliarder Amerika dan secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah memasuki Liga seperti itu," kata Caferin dikutip dari Football Italia, Kamis, 22 April 2021.

    "Mereka menghormati para penggemar dan tradisi klub mereka. Tidak adil untuk mengatakan bahwa pemilik sejumlah klub, yang juga berasal dari Amerika berbeda, meskipun memang benar bahwa sistem olahraganya berbeda,” ujar dia melanjutkan.

    Ceferin mengatakan pertemuan dengan antarpemilik klub akan segera terjadi. Jika klub-klub yang bergabung dengan gagasan Liga Super ingin mengikuti kompetisi resmi di bawah UEFA kembali, kata dia, klub-klub harus berkoordinasi kembali dengan badan tertinggi sepak bola Eropa tersebut,

    “Jika klub-klub ini ingin bermain di kompetisi kami lagi, mereka harus mendekati kami dan kami harus mengevaluasi apa yang terjadi, tetapi saya tidak ingin menjelaskan secara detail, karena kami masih berbicara dengan tim hukum kami," kata Caferin.

    Ia mengapresiasi langkah sejumlah klub Inggris yang memutuskan untuk keluar dari komunitas Liga Super Eropa. "Mereka mengakui kesalahan mereka dan menyadari bahwa mereka salah. Kita semua membuat kesalahan," kata dia. Caferin pun yakin klub raksasa asal Spanyol, Barcelona, yang hingga kini belum mengambil sikap, juga akan segera keluar dari rencana tersebut.

    Aleksander Caferin menyebut bahwa, “Presiden Joan Laporta baru-baru ini terpilih dan saya berbicara dengannya dua atau tiga kali. Dia berada di bawah tekanan besar karena situasi keuangan yang diwarisi. Ini terjadi ketika Anda membayar lebih beberapa pemain dan tidak mendapatkan hasil."

    Di sisi lain, ia mencontohkan Bayern Munchen yang mampu memenangkan Liga Champions tanpa diikuti beban utang. Sebab itulah, menurut Caferin, pembentukan kompetisi saingan UCL menjadi tidak masuk akal. “Mereka (CEO Bayern Karl-Heinz Rummenigge dan CEO Borussia Dortmund Joachim Watzke) banyak membantu saya, serta Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi, yang secara logis, seharusnya menjadi bagian di Liga Super.”

    Sementara itu, Presiden Real Madrid Florentino Perez menegaskan Juventus dan Milan belum meninggalkan proyek Liga Super. Ia juga menyatakan ingin mengubah proyek tersebut. “Kita akan lihat apa yang terjadi minggu depan. Banyak yang telah terjadi 24 jam kongres, tetapi saya mengharapkan lebih banyak berita pada hari Jumat besok," kata dia.

    "Situasinya sangat rumit bagi 12 klub dan bukan untuk UEFA, yang memiliki 235 dari 247 klub yang ada, Jadi, sekarang kami berharap semua orang menyadari kesalahan mereka dan menanggung akibatnya. Kami akan membicarakannya kembali pekan depan," ujar Florentino Perez.

    Baca juga : Tak Kunjung Bersikap, Juventus Bertahan di Proyek European Super League?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.