Evaluasi Olimpiade, PBSI Tinjau Ulang Jumlah Turnamen Atlet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf Ahli pembinaan dan Pelatihan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Rexy Mainaky. Tempo/Aditia Noviansyah

    Staf Ahli pembinaan dan Pelatihan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Rexy Mainaky. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Rexy Mainaky akan meninjau ulang kebiasaan PBSI mengirim atlet ke turnamen-turnamen internasional. Ini dilakukan setelah ia mengevaluasi penampilan tim bulu tangkis dalam Olimpiade Rio de Janeiro 2016. 

    Pasangan ganda putra yang diandalkan mendapat medali emas, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, gagal lolos ke perempat final. Mereka kandas pada babak penyisihan grup. Sedangkan pasangan ganda putri juara Asian Games 2014, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, gugur pada perempat final. Satu medali emas akhirnya didapat pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. 

    “Ini memang di luar dugaan. Saya melihat ini karena kami terlalu berfokus mengejar peringkat sebelum Olimpiade,” kata Rexy dalam konferensi pers kemenangan Olimpiade Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Pusat Latihan Bulu Tangkis PP PBSI, Cipayung, Jakarta, Rabu, 24 Agustus 2016. 

    Padatnya kejuaraan yang diikuti, menurut Rexy, menyebabkan persiapan menuju Olimpiade malah kurang maksimal. “Dalam Olimpiade kemarin, kami berfokus pada menjaga peringkat. Jadi akhirnya, sampai saat-saat terakhir, Hendra/Ahsan dan Greysia/Nitya masih bermain di Australia Terbuka,” ujar Rexy. “Jika tidak harus bermain di Australia, mereka akan memiliki persiapan lebih.”
     
    Menurut Rexy, kebiasaan pengiriman atlet yang selama ini diterapkan di pemusatan latihan nasional (pelatnas) mengacu pada keyakinan bahwa semakin tinggi peringkat atlet, dia akan mendapat hasil undian yang mudah dalam Olimpiade. Namun kenyataannya tidaklah demikian.

    “Pada babak penyisihan grup kemarin (Olimpiade Rio), kalau pemain berperingkat bawah bisa mengalahkan pemain peringkat satu dan menjadi juara grup, dia akan menjadi unggulan pertama saat diundi lagi pada babak utama,” Rexy menjelaskan. 

    Dengan begitu, kata Rexy, sebenarnya peringkat dunia tidak lagi terlalu dilihat begitu atlet berlaga dalam Olimpiade. “Karena itu, saya sudah berbicara dengan pelatih. Dua tahun awal ini kami akan mengirimkan atlet ke turnamen dengan tujuan masuk ke peringkat 16 dunia untuk nomor tunggal dan peringkat 5 dunia untuk ganda,” tuturnya. 

    Peringkat yang disebut Rexy itu mengacu pada peraturan kualifikasi Olimpiade dari Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Dengan berada di dalam cakupan peringkat itu, seorang atlet bisa dipastikan berlaga dalam Olimpiade. 

    “Dua tahun berikutnya, kami akan mengirim atlet-atlet itu ke turnamen hanya untuk mempertahankan peringkat mereka,” ucap Rexy. “Kami tidak akan menggebu-gebu mengirim mereka mengikuti kejuaraan agar persiapan mereka lebih matang.”

    GADI MAKITAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.